Rabu, 22 Januari 2014

Sebab Adanya Siang dan Malam




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqiJxmpkH9LehvdvqHK_WShY1y6aWxFLkdmkFpN7fJfQYtrGsk4a_vkhNjSwyUCSul89Vfm-MBLdEjsEt65kafmXSbh8-DLS2u5bQUKBQV86thwMJh4bo7O25oK0UQvNlc9R-YRgdTLRGt/s200/SunRise.jpg
Apakah maksud Allah menciptakan matahari , bumi dan bulan ? Kenapa juga Allah menciptakan siang dan malam ?

Allah menciptakan semuanya ini
 bukan tanpa maksud. Allah menciptakan dunia ini untuk bisa dekelola oleh kita manusia. Secara tidak sadar kita banyak melupakan keajaiban-keajaiban yang sering terjadi disekitar kita, "Mengapa Allah menciptakan Siang dan Malam ?" demikianlah topik yang saya angkat dalam artikel kali ini. Bagaimana bisa Allah dapat mengatur pergantian malam dan siang dengan teratur.

Marilah Saudaraku, kita renungi segelintir tulisan Pak Deka yang InsyAllah dapat menjawab pertanyaan tadi. Mari kita simak.

------------------------------------------------------
Atas Pengalaman Sahabat saya Mas “I”, kita diajarkan kembali bagaimana beliau dipahamkan oleh Allah tentang Esensi dan Makna Khalifatullah…
Inilah prosesnya…
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagiMaha Penyayang
Seperti kemarin
aku tengah berdiri di atas bukit, memandang kejauhan
sungai angsa yang berkelak-kelok
di senja yang indah, penuh kedamaian
sinar matahari senja nampak kemerahan, meredup
turun, terbenam, perlahan-lahan
saat pergantian matahari turun ke peraduan begitu cepat
mendadak hilang, menyisakan warna kemerahan di langit barat
benda-benda yang nampak benderang, jelas dan tegas
sungai yang berkelok, pohon yang menghijau di sepanjang sungainya
sedikit demi sedikit menghilang, lenyap ditelan kegelapan
hilang dan tiada lagi semua keindahan ini
ditelan misteri, di tutup ketiadaan, kegelapan
aku tak melihat apa-apa,
aku tak tahu ada apa di hadapanku
semua tak ada
semua gelap.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam
terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang,
serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)
Melanjutkan tafakur
setelah mengamati pergerakan bayang-bayang, sepanjang pagi, siang dan malam
aku “dipaksa” mengamati pergantian siang dan malam, harus mencari hikmahnya
kejadian ini sebetulnya sama dengan beberapa hari lalu,
dalam tidur ketika yang dimiliki hanya kesadaran, ada kalimat yang begaung
muncul dalam kesadaran, ada dan nyata
kalimat ini bergaung dan nyata diulang-ulang
terus menerus
“Sesungguhnya dalam pergantian siang dan malam ada tanda-tanda”
“Sesungguhnya dalam pergantian siang dan malam”
……
“Pergantian siang dan malam”
……
“Pergantian….”
…..
Pergantian.
aaahhh.
apa maknanya.
apa hikmahnya.
Sesungguhnya pada pergantian siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang mau menggunakan akal
pergantiang siang dan malam?
aku sudah mengamati sepanjang siang ini
lalu pergantiannya?
ya saat siang berganti malam apa yang terjadi
bagaimana akibatnya?
ada apa ketika siang itu hilang?.
apakah siang itu?
ada sesuatu yang membisik keras di dalam hatiku
Al Quran adalah petunjuk
dia menunjukkan sesuatu yang ingin kutanyakan
ingin ku ketahui, carilah maknanya
makna hanya berguna bagiku, menjawab tanyaku
dalam pencarian Tuhan
dalam pencarian apa rencana Tuhan bagiku
Aku diam, dalam tafakur
mengamati pergantian malam
blank…. tersedot
hilang …. lenyap
hanya ada kesadaran
hatiku perlahan-lahan menjawab
ketika terjadi pergantian siang dan malam
yang terjadi adalah tidak ada matahari
sinar matahari perlahan-lahan lenyap
sinarnya meninggalkan tempat-tempat di muka bumi
tempat yang ditinggalkan menjadi gelap
menjadi tidak nampak
menjadi tidak ada bagi pandanganku
menjadi tidak berarti
“hilang”
jadi sesuatu yang ada tadi, menjadi tidak ada
kalau matahari tidak ada
…uuuh… kok sederhana saja
jadi sesuatu ada bagi mataku
kalau ada matahari dan ada sinarnya yang tak terhalang
(ingat bayang-bayang kemarin)
jadi semua yang ada di alam semesta ini
ada bagi mataku dan bagi kesadaranku
jika dan hanya jika matahari itu ada dan tak tertutup sinar
pergantian siang ke malam hari merambat
gelap total, apapun tak nampak, semua menjadi tak ada apa-apanya
semua tiada, hampa, kosong …. bagi kesadaranku
lalu perlahan muncul bintang-bintang
ya … sinarnya muncul menerangi satu demi satu
namun tiada satupun yang mampu menerangi bumi
Kesadaran muncul, ketika mengibaratkan
matahari bagi bumi adalah ibarat Tuhan kepada Alam semesta
ketika orang menyadari adanya Tuhan maka dia akan melihat alam semesta
namun ketiadaan Tuhan maka yang terjadi adalah munculnya bintang-bintang
yaitu Tuhan-Tuhan semu (bintang adalah sumber cahaya) sepeerti matahari
yang tak mampu menandingi Tuhan, sangat tak berarti
cahaya matahari kepada bumi adalah seumpama cahaya Tuhan
yang menerangi hati manusia …
ya … ternyata berkaitan dengan hati
seperti contoh kemarin dalam bayang-bayang yaitu hati
ternyata pergantian siang dan malam ini berkaitan dengan pergerakan hatiku
hatiku yang bergerak antara gelap dan terang
hatiku yang menerima cahaya matahari atau tidak
duh gampangnya
kalau hatiku menerima cahaya Tuhan ini seperti bumi menerima cahaya matahari
alam semesta ada dan nyata bagi mataku,
maka kalau aku menerima cahaya Tuhan di hatiku
kesadaranku akan melihat semuanya secara nyata
Kulanjutkan pengamatanku
setelah itu apa yang terjadi
yang muncul adalah bulan, yang bersinar penuh keindahan
cahayanya begitu indah kuning keemasan berkilau
menyejukkan, begitu menawan hati
sinarnya mampu menerangi alam semesta tetapi begitu lembutnya
begitu penuh aura keindahan, kenyamanan, keteduhan
apakah bulan itu?
apakah dia memancarkan sinarnya?
oh tidak!
bulan adalah seumpama hati manusia
dia hanyalah memantulan cahay` matahari
ketika bulan menerima cahaya matahari dan berada pada posisi yang tepat
maka bulan akan purnama, sepenuh dan sebulat matahari namun dia bukan matahari
dia hanya memantulkan cahaya matahari dalam keindahan yang nyata
dan mampu menerangi alam semesta ini
cahaya mampu menyaingi bintang-bintang di langit
pergantian siang dan malam
ya… siang dan malam selalu berganti
sehingga menimbulkan perubahan bentuk bulan dari waktu ke waktu
itulah sebuah ketetapan Allah, itulah kehendak dan kepastian Allah
demikian pula ketentuan Allah kepada hati yang akan selalu
berubah ke arah kegelapan, akan bergerak perlahan-lahan
setiap waktu akan menuju ke kegelapan
kalau kita tidak mengarahkan kepada sumber cahaya lagi
Itulah gunanya sholat
secara ketentuan hati kita akan menuju ke arah ke gelapan
dari waktu ke waktu, dan Allah mengetahui kapan waktu-waktu itu terjadi
ketika waktu itu terjadi maka Allah menentukan waktunya
agar kita menghadapkan wajah kita kepada sumber cahaya lagi
agar mampu memantulkan cahayaNya lagi
itulah ketentuan dan guna sholat
sehingga waktu antara sholat, hati akan mengalami
perubahan bentuk dari bulat sabit dan membesar lagi
sampai penuh seumpama bulan purnama sebesar sumber cahaya yaitu matahari
Bulan tidak melakukan apa-apa
hanya begerak, berputar, mengiringi
maka demikian pula hati, hanya perlu membuka kesadaran
menyadi dirinya hanyalah sebuah pemantul
menghadapkan dirinya kepada matahari
dan mengarahkan sisi pemantul
karena bulan mempunyai dua sisi yaitu sisi pemantul
dan sisi penyerap, sebagaimana sisi hati
hati kita mempunyai disi sisi mata uang
sis yang bening dan sisi gelap
maka arahkan sisi bening ini agar mampu menjadi pemantul
yang memantulkan cahaya Ilahi
Sang Khalifah
Maka itulah tugas hati dan juga tugas manusia di bumi
ketika siang hari, dunia sudah diterangi matahari
bulan tidak perlu bertugas apapun
namun ketika matahari tidak ada
maka tugas kita menerangi alam semesta
menjadi bulan
karena kita bukanlah matahari
kita bukanlah sumber cahaya
namun hati kita mampu menjadi bulan
hati kita bisa menjadi pemantul cahaya
Maka jadilah bulan purnama
yang akan menerangi alam semesta
itulah tugas khalifah
itulah tugas manusia di muka bumi
memancarkan sinarnya penuh kelembutan
penuh kasih sayang
sinar yang teramat indah
bukan sinar yang membuat hidup
namun sinar yang menerangi
Sebagai Khalifah Allah di bumi
maka jadilah seperti bulan purnama
yang mewakili matahari pada tempat dan posisinya
bukan menggantikan matahari
hanya memantulkan sebagian kecil
fungsi matahari
kata “pergantian” dalam ayat di atas sangat penting
kita sang khalifah harus tahu kapan pergantian tugas
mewakili itu terjadi, bukan untuk menggantikan
sehingga kita tidak “merasa” menjadi matahari
hanya menyalurkan cahaya matahari
menjadi bulan
yang selalu Purnama
bagi Alam semesta
Indahnya Bulan.
Pergantian
Pergantian?????
ya… mengapa kata ini begitu memikatku
mengapa kata ini selalu bergema terus menerus
memaksaku untuk mengerti dan memahami
pergatian siang dan malam…. hem….ah.
kucoba menjelajah apa yang terjadi pada saat siang berganti malam
ya…. kemungkinan …
betul kemungkinan
kemungkinan menjadi gelap total
kemungkinan ada bulan sabit
kemungkinan menjadi bulan purnama
jadi pergantian adalah kemungkinan serah terima menjadi wakil
kemumgkinan serah terima menjadi khalifah
kemungkinan hati menjadi bulan atau tidak
jadi inilah “pilihan” bagi yang menyadari
inilah hikmahnya
sebuah pilihan … sebuah penentuan …. sebuah keputusan
….. tunggu dulu ….
masih ada lagi
kuamati pergantian siang dan malam ini teramat singkat
coba lihat baik-baik
mungkin hanya satu jam … ah kurang dari itu
mungkin hanya satu menit
bahkan kurang, saat matahari terbenam hanya satu detik
setelah itu akan ada malam yang sangat panjang
maka sebetulnya pilihan kita sungguh singkat
hanya sebuah pilihan menjadi bulan penuh
menjadi bulan sebagian
ataukah tidak menjadi apa-apa
mungkin kesempatan ini akan datang lagi esok
mungkin kesempatan inilha yang terakhir
tetapi pastikan bahwa ketika kesempatan ini tidak diambil
memerlukan waktu yang cukup lama
untuk mendapatkan kesempatan itu lagi
sekarang ini
tergantung kesadaranku
apa yang akan kuambil setelah kusadari ini
kesempatan itu ada di depan mataku
hanya perlu satu detik untuk meraih kemungkinan ini
hanya satu detik untuk menjadikan hatiku menjadi bulan
apakah pilihanku?.
menjadi bulan sabit? ataukah bulan purnama?.
menjadi khalifahnya sehingga mampu menerangi semesta?
ataukah mengambil sumber cahaya lain, bintang-bintang, lilin ataukah kunang-kunang.
karena hatiku ini hanya mampu menjadi seperti bulan.
hanya itu saja satu-satunya pilihan
maka tentu saja harus kupilih sumber cahaya yang benar, sumber yang asli
dan kupilih membuka seluruh hatiku
agar seluruh hatiku sebesar sumber cahaya
seumpama matahari dan bulan
siapkah aku dengan pilihan ini?
Ya Tuhanku
Teguhkan hatiku.
Semoga kita semua
mampu menjadi bulan purnama yang indah
bagi alam semesta
Wassalam
Deka on behalf of Mas “I”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar