berdo'a dan berusaha adalah salah sati kunci kesuksesan
Cita-citaku berusaha menjadi perancang busana yang sukses
Sewaktu kecil Awalnya aku bercita-cita sebagai seorang pengusaha tetapi Akhirnya ini,profesi sebagai perancang busana menarik perhatianku karena untuk hanya dapat bersentuh langsung dengan mendatangkan uang karier sebagai perancang busana dapat bersentuh langsung dengan Fashion dan tutur serta dalam menciptakan Treand berbusana
Tak hanya kini banyak dari Kaum Muda yang meneruskan Pendidikan tentang dunia fashion hingga ke luar Negeri.karena disana menawarkan kurikulum dalam merancang Fashion dari berbagai aliran
Sebenarnya Tuk menjadi seorang Desainer Fashion yang profesional Anda harus kreatif dan inovatif dalam desain dan harus memiliki keterampilan Dasar merancang Fashion
Rabu, 29 Januari 2014
Rabu, 22 Januari 2014
Indahnya Ramadhan "Bulan penuh Rahmat dan Ampunan
Bulan Ramadhan merupakan bulan berkat,bulan rahmat,bulan keamanan serta punya banyak kelebihan
Bagi tujuan menyuburkan rasa tanggung jawab dan rasa ingin menambahkan ibadah bagi mencari ke Ridho Allah sepanjang Rahmadhan ini Dibawa beberapa Hadis yang menceritakaan mengenai kelebihannya
Semoga paparan inin dapat membuka minda kita,merebut peluang ke'emasan yang ada di bulan Ramadhan kali ini
Bulan Ramadhan merupakan bulan berkat,bulan rahmat,bulan keamanan serta punya banyak kelebihan
Bagi tujuan menyuburkan rasa tanggung jawab dan rasa ingin menambahkan ibadah bagi mencari ke Ridho Allah sepanjang Rahmadhan ini Dibawa beberapa Hadis yang menceritakaan mengenai kelebihannya
Semoga paparan inin dapat membuka minda kita,merebut peluang ke'emasan yang ada di bulan Ramadhan kali ini
Karya Tulis Ilmiah : Batik Tegalan
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Batik adalah warisan budaya Indonesia yang semakin diakui
keberadaannya oleh dunia, setelah diakui oleh UNESCO sebagai “ World Herritage
“ ( Warisan Dunia ) tahun 2009. Pantaslah jika batik dijadikan sebagi warisan
dunia karena batik merupakan hasil pikiran nenek moyang yang penuh dengan nilai
sejarah dan budaya.
Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki batik dengan
karakteristik tersendiri, seperti batik Solo, batik Pekalongan, batik Banyumas,
batik Cirebon, batik Ponorogo, batik Tulungagung, batik Gresik, batik Surabaya,
batik Madura, dan banyak lagi dengan nama yang berbeda-beda. Selain batik yang
telah disebut, terdapat juga batik yang menjadi kebanggaan orang Tegal, yaitu
batik Tegalan.
Batik Tegalan sebenarnya adalah potensi besar yang di miliki
kabupaten Tegal, selain dari sektor pariwisatanya. Karena batik Tegal mempunyai
daya saing yang kuat dengan batik dari lain. Motif serta corak yang terang
menjadi ciri khas dari batik yang mendapat sebutan batik pesisiran ini.
Tetapi meskipun memiliki potensi yang sangat besar, batik
tegalan belum begitu dikenal oleh masyarakat Tegal khususnya, serta masyarakat
Indonesia umumnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya promosi, serta kurangnya
modal untuk para pengrajin batik yang sebagian besar merupakan usaha home
industry. Di desa Bengle yang terkenal sebagai kota batiknya tegal, yang hampir
seluruh warganya bermata pencaharian sebagai pengrajin batik hampir semuanya
dalam kategori pengusaha UKM.
1.2 Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan dibahas
dalam karya tulis ilmiah ini adalah :
1.2.1
Apakah keistimewaan dari batik
tegalan ?
1.2.2
Bagaimana proses pembuatan batik
tegalan ?
1.2.3
Bagaimana pemasaran dari batik
tegalan?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah
ini adalah sebagai berikut :
1.3.1
Untuk mengetahui tentang
keistimewaan dari batik tegalan.
1.3.2
Untuk mengetahui tentang proses
pembuatan batik tegalan.
1.3.3
Untuk mengetahui tentang pemasaran
dari batik tegalan.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang dari penulisan karya
ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1.4.1
Memberikan informasi tentang
keistimewaan dari batik tegalan.
1.4.2
Memberikan informasi tentang proses
pembuatan batik tegalan.
1.4.3
Memberikan informasi tentang
pemasaran dari batik tegalan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Sekilas tentang Batik Tegalan
Batik atau kata batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang mempunyai arti:
“menulis” dan “titik”.
2.2. Sekilas tentang Perkembangan
Batik Tegalan
Batik adalah salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu.
Sejalan dengan perkembangan nilai social dn budaya bangsa Indonesia, batik
tumbuh dan berkembang menjadi kekayaan nasional bernilai tinggi.
Sejarah perbatikan di Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan Kerajaan
Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Pengembangan batik banyak
dilakukan pada masa-masa Kerajaan Mataram, kemudian pada masa
kwerajaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta. Kesenian ini mulai meluas di
kalangan rakyat Indonesia, khususnya suku Jawa setelah akhir abad ke-18. Batik tulis
adalah yang pertama kali dikenal, kemudian diikuti oleh batik cap yang mulai
dikenal pada akhir Perang Dunia I, sekitar 1920-an.
Pada zaman Majapahit, awalnya batik dikerjakan terbatas di lingkungan keraton
kerajaan saja. Lantas, kain batik tersebut dipakai untuk pakaian raja,
keluarga, dan para pengikutnya. Pengikut raja pun kemudian membawa seni batik
ke luar keraton. Lama-lama, batik keraton ini ditiru oleh rakyat terdekat dan
meluas menjadi pekerjaan pengisi waktu luang para wanita. Batik yang semula
hanya menjadi pakaian keluarga keraton kemudian menjadi pakaian rakyat yang
digemari pria dan wanita.
Bahan kain putih yang digunakan kala itu adalah hasil tenunan sendiri. Bahan
pewarnanya juga dibuat sendiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia, antara lain
dari pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sementara bahan sodanya dibuat
dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Pewarna dari luar
negeri baru dikenal sesudah PD I yang dijual oleh para pedagang Cina du Mojokerto,
Jawa Timur. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya pewarna batik dari luar
negeri.
Pembatikan yang dikenal sejak zaman Majapahit menyebar pesat di Jawa Tengah,
yaitu surakarta, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Batik kemudian berkembang luas,
khususnya di Pulai Jawa. Awalnya, batik hanya sekedar hobi para keluarga raja.
Kemudian masyarakat mengembangkannya menjadi komoditi perdagangan.
Pembatikan di Yogyakarta dikenal sejak Kerajaan Mtaram ke-I di masa Raja
Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah di Desa Plered. Pembatikan
pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga keraton, yaitu istri dari abdi
dalem danb tentara-tentara. Pada masa itu, dalam upacara resmi kerajaan,
keluarga keraton baik pria atau wanita memakai pakaian kombinasi batik dan
lurik. Rakyat yang berkunjung ke keraton kemudia tertarik dan menirunya.
Peperangan turut berperan dalam penyebaran batik. Perang membuat banyak
keluarga raja mengungsi dan menetap di daerah baru. Batik pun menyebar antara lain
ke Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Ponorogo, Tulungagung, Gresik,
Surabaya, dan Madura.
Di sejumlah daerah di Jawa Tengah, batik pun menjamur. Salah satunya di daerah
Tegal. Batik Tegal dikenal dengan nama Batik Tegalan. Di Tegal, batik dikenal
pada akhir abad ke-19. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran
abu-abu, kemudian meningkat menjadi warna merah dan biru. Batik Tegal kala itu
sudah menyebar ke luar daerah, antara lain ke Jawa Barat yang dibawa sendiri
oleh pengusahanya dengan berjalan kaki. Para pedagang inilah yang mengembangkan
batik Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat. Produksi batik Tegalan sendiri
meliputi daerah Bengle, Langgen, Dukuhsalam, Tegalwangi, Kaladawa, dan
Pasangan. Tetapi, sentral pengrajin batik tegalan berada di Bengle, Kecamatan
Talang, Kabupaten Tegal.
2.3. Sekilas tentang Desa Bengle
Bengle merupakan sebuah desa di kecamatan Talang, yang merupakan salah satu
bagian dari kabupaten Tegal, provinsi Jawa Tengah.
Luasnya
ha. Memiliki batas-batas wilayah meliputi :
Utara
: Desa Dukuh Malang
Selatan
: DesaLanggen
Barat
: Desa
Setu
Timur
:
Desa ini terletak dekat dari pusat kecamatan Talang, jaraknya kurang lebih 1
km. Desa Bengle memiliki populasi penduduk
sebanyak
jiwa
Di
daerah ini banyak ditemukan aliran sungai, dan sebuah waduk besar yaitu Waduk
Pesayangan yang jaraknya tidak cukup jauh dari pusat desa Bengle. Daerah ini
memiliki suasana alam yang panas karena daerah ini termasuk dataran rendah di
kabupaten Tegal dan jarang ditemukan pepohonan.
Akses transportasi menuju desa Bengle belum cukup memadai. Karena jarang
ditemukannya angkutan umu yang berlalu lintas dari dan ke desa Bengle. Hanya
yang paling umum ditemukan yaitu becak, pengendara sepeda, dan pengendara
motor.
Bengle lebih dikenal dengan Kota Batik. Tak heran karena para penduduk Bengle,
khususnya para ibu dan remaja putri mempunyai mata pencaharian sebagai
pengrajin batik. Mereka mulai belajar membatik sejak usia dini. Biasanya mereka
mulai membatik pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB, tetapi tak jarang pula
mereka melanjutkan pekerjaannya itu hingga larut malam. Mereka bekerja dari
hari Senin-Sabtu, sedangkan hari Minggu mereka gunakan untuk istirahat.
BAB
III
METODOLOGI
3.1 Metode Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif analitik. Deskriptif berarti melukiskan objek
penelitian dengan cara menyusun dan menyajikan data yang dikumpulkan dalam
suatu penelitian. Sedangkan analitik artinya mengadakan penyelidikan atau
penelitian terhadap objek yang diteliti. Jadi, penelitian deskriptif analitik
adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan penyelidikan terhadap objek
penelitian,dalam hal ini adalah pesona batik tegalan. Adapun sampel sampel
penelitian ini sebanyak 35 koresponden yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pemilihan sampel dilakukan secara purposif sampling. Purposif sampling artinya
pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan, mengingat setiap unsure yang ada
dalam populasi mempunyai kesempatan atau peluang yang berbeda untuk dijadikan
sampel.
3.2
Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah sekelompok subjek , baik
manusia, gejala, nilai tes,benda-benda ataupun peristiwa. Populasi yang
dihadapi mungkin terbatas dan mungkin pula tidak, tergantung pada rumusan
masalah penelitian yang tlah ditentukan. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh koresponden di Indonesia.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi tidak mungkinnya penyelidikan atau penelitian
terhadap seluruh populasi, maka penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan
sebagian dari populasi yakni sebuah sampel yang dapat dipandang representative
terhadap populasi tersebut.
3.3
Waktu dan Tempat Penelitian
Dalam proses penelitian ini, penulis membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
Proses penelitian yang kami lakukan dilaksanakan di desa Bengle, Kecamatan
Talang.
Di bawah ini adalah table yang menunjukkan proses dan waktu penelitian yang
penulis lakukan:
Tabel 3.1 Proses Penelitian
|
No.
|
Proses
Penelitian
|
Waktu
|
|
1.
|
Penentuan
tema karya tulis
|
28
Desember 2009
|
|
2.
|
Pengumpulan
data/sumber/referensi
|
3
-12 Januari 2010
|
|
3.
|
Wawancara
|
14
Januari 2010
|
|
4.
|
Observasi
|
17
Januari 2010
|
|
5.
|
Pengolahan
data
|
19-27
Januari 2010
|
Sumber : Olahan penulis, 22 Januari 2010.
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah
data pokok atau data utama yang diperoleh langsung dari narasumber atau
responden. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah pernyataan beberapa
responden yang diwawancarai. Sedangkan data sekunder adalah data tambahan.
Sumber data sekunder yang digunakan adalah bahan-bahan tambahan yang terdapat
pada buku-buku referensi serta sumber dari internet.
Teknik
pengumpulan data dalam karya tulis ini adalah :
a.
Observasi,yaitu pengamatan dan
pencatatan dengan sistematik permasalahan-permasalahanyang diselidiki.
Observasi dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung dan menyimak fakta
mengenai batik tegalan di Kabupaten Tegal.
b.
Wawancara. Wawancara merupakan suatu
teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data.
c.
Studi Pustaka, yaitu suatu bentuk
teknik pengumpulan data yang bersumber dari sumber tertulis, baik dari surat
kabar, internet maupun buku-buku untuk dijadikan bahan penulisan.
3.5
Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis
data secara kualitatif dan kuantitatif. Yaitu :
a.
Analisis Kualitatif
Data
primer yang diperoleh dari hasil wawancarasecara kualitatif, sehingga diperoleh
interprestasi data keadaan batik tegalan di Kabupaten Tegal.
b.
Analisis Kuantitatif
Analisis
ini digunakan untuk menganalisis data primer yang telah diklasifikasikan dengan
menggunakan deskripsi presentase. Data yang telah terkumpul diteliti dan dianalisis
dengan menggunakan scoring terhadap instrument, menggunakan rumus :
P =
Keterangan
:
P
= Presentase
F
= Frekuensi
N
= Jumlah responden
100
= Angka satuan pembulatan
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Keistimewaan dari Batik Tegalan
Budaya batik merupakan warisan turun menurun yang telah
berusia ratusan tahun. Semula batik hanya dikenakan oleh keluarga raja maupun
kalangan atas. Kini, batik sudah membudaya di semua kalangan masyarakat.
Bahkan UNESCO sendiri telah menetapkan, batik sebagai salah satu warisan milik
dunia.
Semula,
batik hanya didominasi Solo dan Pekalongan. Namun, seiring perjalanan waktu,
motif batik menyebar. Salah satunya yaitu batik tegalan dari Kabupaten Tegal
yang terkenal juga dengan sebutan batik pesisiran. Sama seperti dengan batik
dari daerah lain. Batik Tegalan juga ada beberapa jenis. Yaitu Batik Tulis,
Batik Cap/Cetak, dan Batik Printing.
Keistimewaan serta yang menjadi keunikan dari batik tegalan ini terletak pada
kekayaan warnanya. Selain itu, kualitas batik itu juga dapat dilihat dari segi
corak dan
pewarnaan dari batik tersebut. Di tegal sendiri terdapat banyak motif batik, baik yang klasik maupun batik dengan sentuhan modern. Salah satu dari batik klasikan adalah Batik Klasikan Bangjo yang didominasi dengan warna terang seperti warna merah dan hijau banyak digunakan dalam motif. Yang termasuk dalam motif Klasikan antara lain, motif gelaran, motif ukel merak, motif cecek kawe, merakan. Ketiga nama tersebut merupakan isen-isen atau pengisi latar motif batik.
pewarnaan dari batik tersebut. Di tegal sendiri terdapat banyak motif batik, baik yang klasik maupun batik dengan sentuhan modern. Salah satu dari batik klasikan adalah Batik Klasikan Bangjo yang didominasi dengan warna terang seperti warna merah dan hijau banyak digunakan dalam motif. Yang termasuk dalam motif Klasikan antara lain, motif gelaran, motif ukel merak, motif cecek kawe, merakan. Ketiga nama tersebut merupakan isen-isen atau pengisi latar motif batik.
Dinamakan motif gelaran karena motif batik tersebut berbentuk seperti alas
tidir yang terbuat dari bambu. Untuk motif ukel berbentuk seperti setengah
bulatan elips, sedangkan motif cecek kawe berbentuk seperti ekor cicak. Selain
itu juga terdapat motif merakan. Disebut motif merakan karena merak yang ada
dalam gambar batik tersebut merupakn simbol dan juga harapan akan adanya
keberuntungan dan kejayaan bagi pemakainya. Disamping motif Klasikan Bangjo,
Tegal juga memiliki motif batik yang mirip batik Solo maupun Yogya. Motif
tersebut bernama Klasikan Irengan. Klasikan Irengan merupakan pendalaman motif
batik Solo-Yogya yang berkembang di daerah Tegal. Motif ini tidak mengalami
perubahan semenjak dikenalkan teknik membatik saat perjalanan Amangkurat dari
Pleret ke Tegal.
Yang termasuk dalam motif Klasikan Irengan antara lain, Udan
Liris yaitu motif yang melambangkan kesuburan, Sawat Rama Putiyan,motif yang
melambangkan kegagahan bagi pemakainya. Parang yang melambangkan kekuasaan
serta kewibawaan. Sawat Candra melambangkan pemakai akan selalu mendapatkan
perlindungan dalam kehidupannya. Sido Mukti, melambangkan harapan diberikannya
sifat mukti atau bijaksana. Sedang Kawungmlinjo melambangkan harapan agar
manusia selalu ingat akan asal-usulnya, juga melambangkan empat penjuru
(pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali ke arah perbuatan baik). Juga
melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsu-nafsu yang ada
pada diri manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia
Penyebaran motif di Kabupaten Tegal tercantum dalam tabel 4.1
Tabel
4.1 Motif dan Persebaran Batik di Kabupaten Tegal
|
No
|
Persebaran
|
Nama
Motif
|
|
1
|
Dukuhsalam-Slawi
|
Gribigan
|
|
2
|
Dukuhsalam-Slawi
|
Jahe-jahean
|
|
3
|
Dukuhsalam-Slawi
|
Kawunganmlinjo
|
|
4
|
Dukuhsalam-Slawi
|
Sidamukti
|
|
5
|
Dukuhsalam-Slawi
|
Udanliris
|
|
6
|
Dukuhsalam-Slawi
|
Ukel
Witwitan
|
|
7
|
Pagiyanten-Adiwerna
|
Kopi
Pecah
|
|
8
|
Pagiyanten-Adiwerna
|
Parang
|
|
9
|
Pagiyanten-Adiwerna
|
Parang
Angkik
|
|
10
|
Pagiyanten-Adiwerna
|
Putihan
|
|
11
|
Pagiyanten-Adiwerna
|
Sawat
Candra
|
Selain keunikan dari segi motif dan coraknya, batik tegalan juga memiliki
keunikan dalam segi pembuatannya, yang tidak dimiliki oleh batik dari daerah
lain yang akan dibahas dalam proses pembuatan batik tegalan.
4.2
Proses Pembuatan Batik Tegalan
Proses produksi atau pembuatan kain batik batik khas
Kabupaten Tegal sama seperti proses produksi kain batik di daerah lain.
Perbedaannya hanya pada corak dan warna dominan saja. Bahan-bahan yang
digunakan untuk membatik pada zaman dulu banyak menggunakan bahan alam jadi
sifatnya alami. Bahan pewarna alami yang biasanya dipakai untuk membatik adalah
kulit kayu, seperti kulit kayu soga, tingi, tegeran, dan lain-lain. Demikian
pula dengan jenis kain yang digunakan juga bahan alami seperti kain mori.
Masyarakat Jawa zaman dahulu belum mengenal bahan-bahan kimia untuk membuat
batik. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pembuatan batik mengalami
perubahan yang drastic, baik dari sisi keanekaragaman kain (seperti sintesis,
katun), bahan pewarna, atau bahan-bahan lainnya.
Batik tulis yang dibuat secara manual oleh masyarakat Jawa sering kali disebut
batik batik tradisional. Pembuatannya memakan waktu cukup lama antara satu
hingga dua bulan untuk selembar kain batik. Proses yang sangat lama tersebut,
karena segala tahap dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin, mulai dari
pembuatan pola, mbironi, nyoga, hingga jadi. Tahapan-tahapan membuat batik
tradisional tidak kurang dari 11 proses. Berikut langkah-langkah membuat batik
tradisional khas Tegal :
I.
Ngetel
Maksudnya adalah menghilangkan kotoran dan kanji pabrik yang
terdapat pada kain mori yang baru. Kanji pabrik yang menempel pada kain mori
menyebabkan kain menjadi kaku dan licin bila disetrika.
II.
Nganji
Pada tahap ini setelah kain selesai dicuci, lalu kain
dikanji tipis dengan tapioka hingga kering. Hal ini dimaksudkan untuk
melicinkan dan memegang benang agar tidak bergoyang. Selain itu juga untuk
mempermudah pelepasan lilin klowong dan tembokan.
Sebelum ditulis, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan
air hingga kanji aslinya hilang dan bersih, kemudian di kanji lagi. Motif batik
harus dilapisi dengan kanji dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal
nantinya malam kurang baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya
malam akan “mblobor” yang nantinya akan sulit dihilangkan. Mori dengan kualitas
tertinggi tidak perlu di kanji lagi, karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi
syarat.
III.
Ngemplong
Proses ini untuk menghaluskan kain yang akan digambari
dengan lilin (diklowong). Beberapa lembar kain yang telah di kanji digulung
erat-erat lalu dipukul-pukul sampai licin dan halus dengan pemukul kayu
berserat halus. Begitu pula dengan alasnya juga terbuat dari kayu berserat
halus. Proses ketiga ini tidak bisa diganti dengan cara disetrika, karena pada
proses disetrika, tidak bisa melekatkan benang-benang dengan lurus.
Biasanya hanya mori yang halus yang perlu dikemplong
terlebih dahulu sebelum dibatik. Mori biru untuk batik cap biasanya bisa langsung
dikerjakan tanpa dilakukan pekerjaan persiapan. Tujuan dari ngemplong ialah
agar mori menjadi licin dan licin. Untuk maksud ini mori ditaruh diatas sebilah
kayu dan dipukul-pukul secara teratur oleh pemukul kayu pula. Mori yang
dikemplong akan lebih mudah dibatik sehingga hasilnya lebih baik.
IV.
Nglowong
Pada tahap ini kain digambari dengan lilin, baik dengan menggunakan canting
tangan atau menggunakan cap atau stempel manual (yang sudah agak maju). Sifat
dari lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah supaya
lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok. Sebab bekas gambar lilin ini
nantinya akan ditempati oleh warna coklat.
Selesai diklemplong mori sudah siap untuk dikerjakan. Teknik pembuatan batik
terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dari pekerjaan utama, dimulai dengan
nglowong ialah membatik motif-motifnya diatas mori dengan mengguanakan canting
Nglowong pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah selesai
dilanjutkan dengan Nerusi pada sebelah lainnya.
V.
Nembok
Proses kelima ini hampir sama dengan proses keempat yakni Nglowong. Bedanya
lilin yang digunakan harus lebih kuat karena lilin ini dimaksudkan untuk
menahan zat warna biru (indigo) dan coklat (soga) agar tidak menembus lain.
Sebelum dicelup kedalam zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap berwarna
putih harus ditutup dengan malam. Lapisan malam ini ibaratnya tembok
untuk menahan zat pewarna agar jangan merembes kebagian yang tertutup malam.
Oleh karena itu pekerjaan ini disebut menembok, jika ada perembesan karena
temboknya kurang kuat maka bagian yang seharusnya putih akan tampak jalur-jalur
berwarna yang akan mengurangi keindahan batik tersebut. Itulah sebabnya malam
temboknya harus kuat dan ulet, lain dengan malam klowong yang justru
tidak boleh terlalu ulet mudah dikerok.
VI.
Wedelan/Celepan/Medel.
Yaitu memberi warna biru pada kain yang telah memasuki proses Nembok dengan
menggunakan indigo yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki.
Jaman dulu pekerjaan ini memakan waktu berhari-berhari karena menggunakan bahan
pewarna indigo (tom). Zat pewarna ini sangat lambat menyerap dalam kain
mori sehingga harus dilakukan berulang kali, kini dengan bahan warna modern
bisa dilakukan dengan cepat.
VII.
Ngerok
Yaitu menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna coklat dengan alat cawuk
(terbuat dari lempengan seng yang ditajamkan ujungnya). Bagian yang akan di
soga agar berwarna coklat, dikerok dengan cawuk ( semacam pisau tumpul
dibuat dari seng) untuk menghilangkan malamnya.
VIII.
Mbironi
Pekerjaan berikutnya adalah mbironi, yang terdiri dari penutupan dengan malam
bagian-bagian kain yang tetap diharapkan berwarna biru, sedangkan bagian yang
akan di soga tetap terbuka. Pekerjaan mbironi ini dikerjakan didua sisi kain.
Pada tahapan ini kain yang telah selesai dikerok pada bagian-bagian yang
diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecekan/titik-titik) perlu ditutup
lilin dengan menggunakan canting tulis. Maksudnya agar bagian tersebut tidak
kemasukan warna lain apabila disoga.
IX.
Nyoga
Kain yang telah selesai dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan
ekstrak pewarna yang terbuat dari kulit kayu soga, tingi, tegeran, atau
lainnya. Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya.
Setelah itu kain dikeringkan. Proses ini diulang-ulang sampai mendapatkan warna
coklat yang diinginkan.
Menyoga merupakan proses yang banyak memakan waktu, karena mencelupkan kedalam
soga. Jika menggunakan soga alam, tidak cukup hanya satu dua kali saja, harus
berulang. Tiap kali pencelupan harus dikeringkan diudara terbuka. Dengan
menggunakan soga sintesis maka proses ini bisa diperpendek hanya setengah jam
saja. Istilah menyoga diambil dari kata pohon tertentu yang kulit pohonnya
menghasilkan warna soga (coklat) bila direndam dalam air.
X.
Ngareni
Proses Ngareni, kain yang telah berwarna coklat kemudian difiksir/disareni
dengan larutan air kapur. Kain dicelupkan dalam bak air kapur hingga seluruhnya
basah. Setelah ditiris, kain dicelup lagi dalam air ekstrak kayu tegeran,
kembangsan, dan lain-lain. Pada proses ini untuk membersihkan seluruh lilin
yang masih ada di kain dengan cara dimasak dalam air mendidih, ditambah air
tapioka encer agar tidak melekat kembali ke kain.
XI.
Mbabar/Nglorot
Setelah mendapat warna yang dikehendaki, maka kain harus mengalami proses
pengerjaan lagi yaitu malam yang masih ketinggalan di mori harus dihilangkan,
caranya dengan dimasukkan ke dalam air mendidih yang disebut nglorot.
4.3
Pemasaran Batik Tegalan
Meskipun batik tegalan tidak kalah dengan batik dari daerah lain dalam segi
motif dan corak, namun dalam hal promosi dan pemasaran, batik tegalan sangat
tidak maksimal dibandingkan dengan daerah lain seperti Pekalongan dan Solo yang
sudah terkenal sampai ke mancanegara. Hal ini disebabkan karena kurangnya media
promosi untuk memperkenalkan batik tegalan.
Hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap 30
koresponden dari seluruh Indonesia, yang menunjukkan sebagian besar dari
koresponden yang diambil datanya melalui kuisioner tidak mengetahui tentang
batik tegalan. Bahkan orang tegal sendiri juga tidak tahu kalau tegal memiliki
batik.
Meskipun sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah Kabupaten
Tegal untuk memperkenalkan batik tegalan. Upaya-upaya yang telah dilakukan
pemerintah yaitu :
§ Penggunaan
Wajib Batik bagi PNS
Pemerintah kabupaten Tegal telah mewajibkan Pegawai Negeri
Sipil (PNS) untuk memakai batik setiap hari Kamis sejak 2003. Hal ini bertujuan
agar penjualan batik tegalan meningkat di lingkup kabupaten Tegal.
§ Pameran
Batik Tegalan
Dalam pameran ini, pemerintah mengikutsertakan
designer-designer untuk membuat baju dari batik tegalan yang akan dikenakan
oleh para model dalam acara Fashion Show. Selain Fashion Show, dalam pameran
ini, pemerintah juga memperkenalkan motif-motif batik tegalan yang beraneka
ragam yang didominasi warna terang. Promosi ini sudah dilakukan pemerintah
Kabupaten Tegal di 10 provinsi di Indonesia.
§ Penggunaan
Batik di Event Penting
Selain hari kamis, penggunaan batik tegalan juga diwajibkan
saat-saat program pariwisata serta dalam acara-acara penting. Seperti
upacara-upacara peringatan hari-hari nasional.
§ Pembentukan
DEKRANASDA
Dekranasda adalah suatu wadah yang disediakan pemerintah
untuk para pengrajin batik dalam hal pendistribusian. Pemerintah akan membantu
pendistribusian batik dari para pengrajin yang sulit mencari calon pembeli.
Pembentukan Dekranasda sangat berguna bagi para pengrajin batik,
khususnya pengrajin dalam kategori UKM.
Dari upaya-upaya yang dilakukan pemerintah tersebut
menunjukkan bahwa pemerintah telah serius dalam upaya memasarkan batik tegalan.
Meskipun begitu, banyak pula kendala yang dialami oleh pengrajin, penjual serta
pemerintah untuk memperkenalkan natik tegalan jauh lagi. Kendala itu meliputi :
§ Produksi
Batik Tegalan
Melemahnya proses bati tegalan merupakan salah satu kendala
yang dialami perajin batik. Hal ini disebabkan karena kurangnya antusias dari
generasi muda untuk menjadi pengrajin batik. Desa bengle yang hampir semua
keluarga sebagai pengrajin batik dilakukan oleh ibu-ibu serta perempuan muda
yang sudah memiliki anak. Sedangkan remaja putri lebih banyak merantau ke
Jakarta bekerja di Warteg yang memiliki penghasilan yang tetap. Sedangkan
remaja putra juga sedikit yang bekerja sebagai pengrajin batik. Kebanyakan dari
mereka bekerja di ibukota mengharapkan pekerjaan yang lebih baik. Hal ini bisa
berakibat kurang antusias generasi muda untuk melestarikan batik tegalan yang
sekaligus juga memperkecil proses produksi.
§ Kurangnya
Modal
Kendala utama yang dialami pengrajin batik yaitu masalah
modal. Banyak dari mereka yang mengeluhkan akan biaya produksi yang tidak
sebanding dengan biaya penjualan. Serta kurangnya perhatian dari pemerintah
untuk pengrajin dalam hal permodalan. Pengrajin batik di desa Bengle sendiri
lebih banyak bekerja di bawah seorang tengkulak. Mereka mendapatkan kain mori
serta bahan lain dari tengkulak. Kemudian mereka mengerjakan proses membatik.
Setiap bulan mereka menyetor hasil mereka kepada tengkulak dengan system bagi
dua. Setiap pengrajin di desa bengle dapat memproduksi sebanyak 10 batik tulis
perbulan.
Meskipun pemerintah telah memberikan modal, namun modal itu
dianggap terlalu kecil. Junlah modal UKM yang telah diberikan pemerintah untuk
pengrajin tidak sebanding dengan jumlah pengrajin. Sehingga hal ini juga
menyebabkan kurang proses produksi batik tegalan.
§ Kurangnya
Kepedulian Remaja
Remaja yang merupakan generasi penerus cenderung untuk tidak
memakai batik, khususnya remaja Kabupaten Tegal yang enggan memakai batik
tegalan. Hal ini disebabkan karena alas an remaja yang dianggap kuno jika
memakai batik. Padahal pemerintah sudah menvariasikan batik sesuai mode remaja
saat ini. Sehingga penyuluhan tentang batik tegalan terhadap remaja sangatlah
dibutuhkan untuk menumbuhkan rasa cinta memakai serta memiliki batik tegalan
yang saat ini terancam kehilangan generasi.
Itulah yang menjadi kendala pemerintah untuk mempromosikan
batik tegalan ke masyarakat umum. Dalam tabel 4.2 tertulis pemasaran batik
tegalan di Kabupaten Tegal.
Tabel 4.2 Pemasaran Batik khas Kabupaten Tegal
|
No
|
Nama
|
Kapasitas
per bulan ( buah )
|
Pemasaran
|
|
1
|
KUB
Kembang Manggar ( Inah )
|
4
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
|
2
|
Pengrajin
Mandiri Dalam KUB Kembang Manggar
|
2-4
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
|
2-4
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
||
|
2-4
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
||
|
2-4
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
||
|
3
|
Pengrajin
Mandiri dil luar KUB Kembang Manggar
|
1
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
|
2-4
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
||
|
2-4
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
||
|
4
|
Kunah
|
160
|
Toko-toko
di Slawi, Banjaran, Tegal.
|
|
5
|
Sunarti
|
25
|
Ibu
Kunah
|
|
6
|
Mak
Irah
|
25
|
Ibu
Kunah
|
|
7
|
Warti
|
10
|
Ibu
Kunah
|
|
8
|
Tiol
|
50
|
Ibu
Kunah
|
|
9
|
Raswi
|
25
|
Toko-toko
di Slawi, Banjaran, Tegal.
|
|
10
|
Surip
|
50
|
Toko-toko
di Slawi, Banjaran, Tegal.
|
|
11
|
Pengrajin
Buruh ( Surip )
|
15
|
Ibu
Kunah
|
|
12
|
Pengrajin
Mandiri ( Surip )
|
2
|
Di
desa dan Luar Desa Pasangan
|
|
2
|
Di
desa dan Luar Desa Dukuhsalam
|
||
|
13
|
Marwah
|
20
|
Di
desa, toko-toko di Slawi, Banjaran, Tegal, Pasangan, Bengle.
|
|
14
|
Marwah
|
20-25
|
Di
desa, toko-toko di Slawi, Banjaran, Tegal, Pasangan, Bengle.
|
|
15
|
Pengrajin
Buruh ( Marwah )
|
1-4
|
Setu,
Bengle, Pasangan, Langgen.
|
Selain itu juga terdapat klaster-klaster batik di Kabupaten
Tegal.
Tabel 4.3 Klaster Batik khas Kabupaten Tegal
|
Desa
|
Profil
|
Jumlah
|
Nama
|
Alamat
|
|
|
RT
|
RW
|
||||
|
Dukuhsalam-Kec.
Slawi
|
Pengepul
|
1
|
KUB
Kembang Manggar ( Inah )
|
3
|
4
|
|
Pengrajin
mandiri dalam KUB
|
3
|
KUB
Kembang Manggar ( Inah )
|
3
|
2
|
|
|
4
|
4
|
2
|
|||
|
10
|
2
|
4
|
|||
|
10
|
3
|
4
|
|||
|
Pengrajin
mandiri luar KUB
|
1
|
KUB
Kembang Manggar ( Inah )
|
1
|
||
|
5
|
3
|
||||
|
30
|
4
|
||||
|
Pagiyanten-Kec.
Adiwerna
|
Pengepul
|
7
|
Kunah
|
22
|
6
|
|
Sunarti
|
22
|
6
|
|||
|
Mak
Irah
|
22
|
6
|
|||
|
Warti
|
22
|
6
|
|||
|
Tiol
|
22
|
6
|
|||
|
Raswi
|
22
|
6
|
|||
|
Surip
|
22
|
6
|
|||
|
Pengrajin
buruh
|
30
|
22
|
6
|
||
|
Pengrajin
Mandiri
|
1
|
5
|
1
|
||
|
4
|
4
|
1
|
|||
|
Setu-Kec.
Tarub
|
Pengepul
|
2
|
Marwah
|
2
|
2
|
|
Marwah
|
3
|
2
|
|||
|
Pengrajin
buruh
|
5
|
2
|
2
|
||
Juga terdapat Mekanisme Plasma pada klaster yang tercantum dalam tabel
Tabel 4.4 Mekanisme Plasma pada Klaster Batik khas kabupaten
Tegal
|
Profil
|
Jumlah
|
Nama
|
Jumlah
Tenaga Kerja
|
Mekanisme
kerja
|
|
Pengepul
KUB
|
1
|
KUB
Kembang Manggar (Inah)
|
4
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
|
Pengrajin
mandiri dalam KUB
|
3
|
Menjual
Kain Batik
|
||
|
4
|
Menjual
Kain Batik
|
|||
|
10
|
Menjual
Kain Batik
|
|||
|
10
|
Menjual
Kain Batik
|
|||
|
Pengrajin
mandiri di luar KUB
|
1
|
Menjual
Kain Batik
|
||
|
5
|
Menjual
Kain Batik
|
|||
|
30
|
Menjual
Kain Batik
|
|||
|
Pengepul
|
7
|
Kunah
|
20
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
|
Sunarti
|
10
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
||
|
Mak
Irah
|
10
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
||
|
Warti
|
5
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
||
|
Tiol
|
20
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
||
|
Raswi
|
10
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
||
|
Surip
|
20
|
Meminjamkan
Mori dan membeli Mori yang sudah dicanting
|
||
|
Pengrajin
buruh
|
30
|
Menjual
mori pinjaman yang sudah dicanting
|
||
|
Pengrajin
Mandiri
|
1
|
Menjual
kain batik
|
||
|
4
|
Menjual
kain batik
|
|||
|
Pengepul
|
2
|
Marwah
|
1
|
Membeli
kain batik yang sudah jadi
|
|
Marwah
|
20
|
Membeli
Mori yang sudah dicanting
|
||
|
Pengrajin
buruh
|
5
|
Menjual
kain Mori yang sudah dicanting
|
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah penulis paparkan, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1) Batik Tegalan mempunyai keistimewaan
yang tidak dimiliki oleh batik dari daerah lain.
2)
Batik Tegalan dalam proses
pembuatannya mempunyai keunikan disbanding batik lain, yaitu adanya proses
Ngetel, Nganji, Ngemplong, Nembok, Wedelan/Celepan/Medel, Ngerok, Mbironi,
Nyoga, Ngareni, dan Mbabar/Nglorot
3) Pemasaran Batik Tegalan dikendalai karena
promosi serta pendistribusian yang kurang maksimal.
5.2
Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut :
1) Warga Tegal harus lebih mengenal
batik Tegalan
2) Pemerintah lebih peduli lagi
terhadap pengrajin batik Tegalan.
3) Harga jual dari batik Tegalan harus
sesuai dengan modal
PEMERINTAH
KABUPATEN TEGAL
DINAS
PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAH RAGA
UPTD
SMA NEGERI 1 SLAWI
Jalam
KH. Wahid Hasyim 1 Kotak Pos6 Telp. (02830 491164
3317173
Slawi 52415
SURAT KETERANGAN
Kepala UPTD SMA Negeri 1 Slawi Kabupaten Tegal
menerangkan dengan sesungguhnya bahwa Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Pesona
Pancaran Batik Tegalan” yang ditulis oleh :
Nama
: Dwi Putri Sabariasih
NIS
: 0813492
Nama
: Irma Prastika
NIS
: 0813688
Nama
: Irwan Suswandi
NIS
: 0813725
Nama
: Rima Auly Ismalia
NIS
: 0813509
Nama
: Susi Kurniati
NIS
: 0813543
Merupakan hasil karya penelitian dan
benar-benar karya sendiri.
Demikian surat keterangan ini diberikan agar dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.
Slawi, 27 Januari 2010
Kepala UPTD SMA Negeri 1 Slawi
Sr
Rejekiningsih, M.pd
NIP.
PEMERINTAH
KABUPATEN TEGAL
DINAS
PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAH RAGA
UPTD
SMA NEGERI 1 SLAWI
Jalam
KH. Wahid Hasyim 1 Kotak Pos6 Telp. (02830 491164
3317173
Slawi 52415
Slawi, 25 Januari 2010
Nomor
:
Perihal
: Peminjaman Data
dan Wawancara
Dengan Hormat,
Perlu kami sampaikan bahwa beberapa siswa kami yang tergabung dalam Kelompok
Karya Ilmiah Remaja bermaksud menulis mengenai Batik Tegalan di Kabupaten
Tegal. Terkait dengan hal tersebut kami mohon kiranya Bapak Ibu berkenan untuk
meminjamkan data-data dan bersedia diwawancarai.
Demikian surat ini kami sampaikan atas perhatian Bapak Ibu kami sampaikan
terima kasih.
Kepala UPTD SMA Negeri 1 Slawi
Sri Rejekiningsih, M.Pd
NIP
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tegal.2009. Kebudayaan Kabupaten
Tegal. Tegal : Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tegal.
Langganan:
Postingan (Atom)